Wednesday, August 27, 2008

Kuliah S2 di Libya dan Yaman

TANYA

kepada Rekan2 milis...
saya mohon bantuannya untuk informasi mengenai perguruan tinggi khususnya untuk S2 di Libya dan Yaman. saya tertarik sekali untuk kuliah disana. rencana saya ingin mengambil kuliah ekonomi syariah. namun saya sadari S1 saya dari bahasa Prancis kependidikan lagi,lulus thn 2006. apakah di mungkin kan? saya mohon bantuannya.

Terima kasih

085221148348

JAWAB

wah kalo bhs perancis enakan dimesir atau ditunis..soalnya kedua negara tuh
bahasa keduanya Bhs perancis dan bhs english. bahkan syariah wa qanun di
Azhar bhs perancis dan kebanyakan dibahas qanun perancis.

salam....
ikutan nimbrung ach....
kenalkan saya mahasiswa yang sedang menjalani program pendidikan S1 tahun ke-empat di mesir. emang boleh di katakan kalo yang di bahas di syari'ah qonun al-azhar emang qonun prancis, tapi yang wajib anda kuasai bukanlah bahasa prancis, tapi bahasa arab karena mata kuliah di azhar semuanya memakai bahasa arab, yang memakai bahasa prancis hanyalah satu atau dua matakuliah saja,
dan kalo anda pengen fakultas/jurusan ekonomi syari'ah, menurut pengalaman temen2 yang berpindah2 kuliah di negara2 timur tengah mereka mengatakan mesir merupakan tempat yang paling tepat dan memiliki berbagai kelebihan dalam dunia perkuliahan.
wassalam

Betul, yang pakai perancis sebagai rujukan bahasa keduanya terdapat di Maroko, Aljazair, Mesir, Tunisia, dan Lebanon. Dan mereka lebih bagus, tentu saja juga tergantung orangnya. Biasanya beasiswa ada di http://www.ditpertais.net/
yang ngurusin depag.... silakan dicoba, semoga membantu.

salam,

zacky

Info tambahan, tapi sayang waktunya telat. meskipun bisa diantisipasi
untuk tahun depan. dan barangkali bisa ditanyakan untuk S2/S3

===========
Pengumuman Seleksi Beasiswa S1 Yaman 2009 2010

April 22, 2008 in Blog Indonesia, Blogger Indonesia, Fatih Syuhud,
Indonesian Blogger
Tags: beasiswa luar negeri, beasiswa s1, beasiswa yaman

Diberitahukan bahwa seleksi beasiswa Yaman Universitas Al Ahqaf
dilaksanakan pada

Tahap pertama, pada tanggal 25 Mei 2008 di Pondok Pesantren Kauman
Lasem Jawa Tengah. Telpon 08122834780 untuk putra dan putri

Tahap kedua, 1 Juni 2008 di Ponpes Darullughah wadda'wah Bangil
Pasuruan Jawa Timur. Telpon: 08883186094 khusus putera.

Tahap ketiga, tanggal 8 Juni 2008 di PP Alkhairat Bekasi Jawa Barat
(Jabar) Telp. 081932318294 Berlaku untuk putra dan puteri.

Info selengkapnya silahkan hubungi (1) Habib Hasan Al Jufri Telp.
08122212000. (2) KH. M. Zaim Ahmad Ma'shum. Telp. 081325650650.

Perbedaan penulisan nama pada ijasah dan dokumen kewarga negaraan

TANYA

Dear temans,

Saya memiliki masalah yang lumayan serius saat ini, yaitu penulisan
nama pada Ijazah tidak sesuai dengan dokumen kewarga negaraan saya
(akte kelahiran, KTP, paspor). Kesalahan saya adalah membiarkan hal
ini berlanjut karena saya sebelumnya menganggap ini bukan hal penting.

Semenjak SD, saya terdaftar dengan nama depan AL KAUSAR di sekolah,
dan karena pendaftaran ke jenjang yang lebih tinggi menggunakan
ijazah sebelumnya, saya terdaftar dengan nama AL KAUSAR hingga
perguruan tinggi. Alhasil, di ijazah sarjana saya tercantum nama AL
KAUSAR.

Sementara itu, dokumen kewarga negaraan saya (akte kelahiran, KTP,
paspor) nama depan saya tertulis ALKAUSAR (tanpa spasi). Perbedaan
yang sangat kecil, namun jelas.

Saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi masalah ketika melamar
beasiswa. Sejauh ini saya tidak pernah dipanggil untuk beasiswa
manapun (walaupun bisa jadi juga karena aplikasi saya tidak memenuhi
syarat), dan saya juga khawatir, ini akan menjadi masalah ketika saya
mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri untuk studi S2 apabila
saya pergi dengan biaya sendiri.

Selama ini saya tidak ada masalah dengan organisasi-organisasi tempat
saya pernah bekerja di Indonesia untuk ketidak serasian antara nama
di ijazah dengan dokumen kewarga negaraan saya. Organisasi tempat
saya bekerja sekarang juga tidak pernah menanyakan ijazah saya yang
sekarang. Mereka hanya meminta surat rekomendasi dari tempat kerja
terdahulu.

Saya tidak ingin menyalahkan pihak sekolah dasar tempat saya belajar
dulu untuk masalah ini, juga orang tua saya yang mungkin karena
kealpaannya menganggap hal ini tidak terlalu penting, apalagi
menyalahkan diri saya sendiri, karena tidak segera menangani masalah
ini sedari awal. Yang ingin saya lakukan sekarang adalah
menyelesaikan masalah ini secepatnya, karena saya punya rencana untuk
melanjutkan studi tahun depan ke luar negeri, dengan atau tanpa
beasiswa.

Saya sudah mencoba menghubungi pihak Universitas tempat saya kuliah
dulu dan menanyakan kemungkinan memperbaiki nama di ijazah sarjana
saya, dan saya mendapatkan jawaban, hal ini tidak mungkin, karena
nama saya sesuai dengan ijazah SMA dan D3. namun pihak universitas
bisa memberikan surat keterangan. Saya tidak tahu apakah surat
keterangan ini berlaku untuk mendaftar ke universitas di luar negeri.

Sementara apabila saya mengganti dokumen kewarga negaraan saya, dan
disesuaikan dengan ijazah, hal ini tentu saja sulit. harus melalui
proses di pengadilan negeri, kemudian kantor catatan sipil dan
seterusnya. Saat ini saya bekerja di Timor-Leste dan saya tercatat
dengan nama yang sesuai dengan dokumen kewarga negaraan saya. jadi
sulit bagi saya untuk menggantinya.

Saya harap teman-teman bisa memberikan saran dan masukan untuk
menyelesaikan masalah saya ini.

Salam,

Al


JAWAB

Mungkin satu-satunya cara adalah mengubah akta kelahiran atau melampirkan surat keterangan pada akta kelahiran ke notaris terdekat di kota anda. Kalau mengubah nama (meminta keterangan) dari ijazah SD sampai ke perguruan tinggi, pasti akan repot.

Ini sesuai dengan akal sehat yang biasa saja biar efisien

iscab:

Nama saya di akte kelahiran, di KTP, di paspor, di ijasah SD, SMP, SMA, dan
sarjana berbeda-beda.
Saya bisa studi master di Uni Bremen, Jerman.
Mungkin kena masalah kalau mengalami penyetaraan ijasah di DIKTI.
Ah, tapi itu masalah nanti.

Di luar negeri, intinya gunakan nama sesuai paspor.
Jadi kalau ada salah nama pada ijasah, tinggal tunjukkan paspor lalu mereka
akan berusaha memperbaiki nama supaya sesuai paspor.

Intinya sih tidak perlu memperumit diri sendiri. Orang luar negeri juga
tidak selalu peduli dengan perbedaan nama "Alkausar" dan "Al Kausar". Selama
punya paspor, urusan administrasi mudah.

Condro

Beasiswa ADB

TANYA

Dear All,

Sy tertarik mencoba beasiswa ADB spt yg diiklankan di Kompas (Sabtu/23/8/2008) untuk program doktor. Ini adalah kesempatan kedua sy apply beasiswa ke LN. Kesempatan pertama ketika mencoba apply beasiswa Prancis (program master) terpaksa blm berhasil krn atasan di kantor sy blm mengizinkan.

So, mgkn ada teman-teman yg berhasil menembus beasiswa ADB atau mgkn pernah mencoba tes bs memberikan pencerahannya kpd sy. Hal yg ingin sy tanyakan :

Bagaimana prosedur pendaftaran beasiswa ADB ?Bagaimana memilih uni yg ingin kita tuju. oh ya bidang sy adalah ilmu sosial, especially sosiologi.Apakah pemilihan uni berpengaruh thd peluang /kesempatan lulus?
Demikian beberapa pertanyaan sy. Mhn pencerahannya dari teman-teman

Salam Hangat,

Rakhmat H
Jakarta

JAWAB

Pak Rahmat,

Silahkan dibuka di situs ADB di http://www.adb.org/JSP/procedures.asp

pada situs tersebut dijelaskan secara berurutan proses dalam seleksi
beasiswa ADB.

selain itu pilihan universitas juga terdapat pada situs tersebut.

semoga membantu

Best Regards

Mahyarudin.D

pak Rahmat,
prosedur beasiswa ADB-JSP ada di homepagenya ADB-JSP.
yang jelas, bapak apply ke universitas yang bapak minati sambil
memberitahu bahwa bapak akan apply beasiswa ADB-JSP. jika bapak
memenuhi syarat untuk diterima di universitas bersangkutan dan
eligible untuk beasiswa ADB-JSP, maka universitas yang bersangkutan
yang meminta ADB untuk membiayainya. jadi pelamar tidak berhubungan
langsung dengan pihak ADB.

pertanyaan:

Apakah pemilihan uni berpengaruh thd peluang /kesempatan lulus?

ya. sebaiknya bapak menanyakan jumlah beasiswa ADB-JSP yang tersedia
di univeristas yang bapak pilih karena tiap universitas dapat jatah
berbeda, kemudian bapak tanyakan juga apakah ada prioritas untuk
kriteria tertentu di universitas.
misalnya mereka lebih memilih asia tengah, mekhong river countries,
pegawai negeri, NGO, dst.
semoga membantu.

Studi MS/PhD at Max Planck Institute

TANYA

Dear Milister,

Salam kenal, saya Nunu.

Saya mau bertanya tentang Max Planck Insitute (MPI) yang ada di Germany.
Mereka saat ini membuka lowongan student baik untuk program Master ataupun PhD, dibawah payung International Max Planck Research School (IMPRS).
yang jadi pertanyaan saya adalah:
- bagaimana study di MPI/IMPRS tersebut?
- dan bagaimana prospek student dari lulusan IMPRS? mengingat bahwa bahwa IMPRS ini adalah lembaga penelitian, bukan merupakan suatu institusi pendidikan.
mungkin ada alumni/milisters yang tahu info tentang MPI/IMPRS ini.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas infonya

Cheers

Nunu

JAWAB

Halo Nunu,

MPI adalah salah satu lembaga riset terkemuka di Jerman, yang mempunyai beberapa puluh center di Jerman dan baru-baru ini membuka cabang di Amerika dan China. Dalam pemeringkatan lembaga riset seringkali MPI memperoleh peringkat sangat baik.

Sepanjang yang saya ketahui, MPI sendiri tidak memberikan gelar/degree, melainkan mahasiswanya terdaftar di universitas (umumnya yang terdekat dangan lokasi MPI tersebut) dan nantinya medapat gelar akademiknya dari universitas di mana yang bersangkutan terdaftar.

Jadi, silakan maju terus.

Wassalam

Doktor Indonesia Menangi Kompetisi Teknologi Pertahanan di Inggris

[ Selasa, 26 Agustus 2008 ]
Doktor asal Jombang Menangi Kompetisi Teknologi Pertahanan di Inggris

Sang Robot Bisa Bedakan yang Sipil dan Militer

Hampir bersamaan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, Dr Subchan, peneliti asal Indonesia, berhasil meraih prestasi bergengsi di Inggris. Bahkan, Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya.

NURANI SUSILO, London

SIAPA sangka dari Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa, Dr Subchan, kini menjadi pembicaran di Inggris. Peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge.

MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Subchan, pria yang lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, itu bersama Team Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).

Saturn adalah semacam robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Ini adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.

Tim Stellar adalah gabungan antara Cranfield University, Stellar Service Ltd, Blue Bear System Ltd, SELEX Sensors, dan Airborne System Ltd, TRW Conekt, dan Marshall Specialist Vehicles.

''Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa berisiko terlihat atau diketahui lawan,'' jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994 itu kepada Jawa Pos kemarin.

Karena berbagai kelebihan itu, Subchan dan Team Stellar dinyatakan unggul dibandingkan peserta lomba yang lain. Andy Wallace, perwira militer dari Departemen Pertahanan Inggris, mengakui ingin mendapatkan produk teknologi yang membuat misi prajurit di medan tempur semakin aman. ''Kami ingin tentara yang bertugas di lapangan makin aman dan keselamatan mereka terlindungi,'' kata Wallace kepada stasiun televisi BBC.

Dalam konteks perang modern, lanjut Wallace, produk teknologi seperti yang dikembangkan Subcham dan timnya memang sangat relevan. Medan yang asing dan sulit, membutuhkan piranti yang bisa sangat membantu prajurit tempur.

Robot yang dikembangkan Team Stellar ini terdiri atas dua pesawat kecil dan satu kendaraan darat. Semuanya tanpa awak. Wahana ini dilengkapi dengan sensor radar, panas, dan visual. Untuk menyelaraskan kerja ketiga robot ini, sekaligus menganalisis hasil yang didapat, dibuat semacam pusat mengendali terpadu.

Kepada Jawa Pos Subchan memaparkan, tiga komponen robot yang dikembangkan Team Stellar itu punya fungsi sendiri-sendiri yang saling menunjang. Pertama, pesawat tanpa awak yang terbang tinggi. Alat ini berfungsi memetakan wilayah dan mengetahui medan. Pesawat ini bisa mendeteksi kendaraan militer; tank, bahkan sniper (penembak jitu) lawan.

Namun, untuk bom pesawat, alat ini tidak bisa mendeteksi secara akurat. Itulah sebabnya dibuat robot kedua dan ketiga berupa pesawat tanpa awak yang terbang rendah dan satu robot darat (ground vehicle). Kedua robot terakhir ini lebih berfungsi untuk mengecek atau melakukan verifikasi terhadap temuan pesawat pertama yang terbang tinggi .

Subchan, yang menempuh master bidang applied matematics (S2) di Delft University of Technology di Belanda pada 1998-2000 ini terlibat di bagian desain dan pengembangaan kendaraan udara dan darat tanpa awak. ''Ini memang pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak,'' kata pria kelahiran Jombang Mei 1971 itu.

Dia menceritakan, proyek robot militer ini dimulai sekitar pertengahan 2007. Selama kurang lebih setahun, Team Stellar yang menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan dan Cranfield University itu mengembangkan dan menguji coba Saturn di lapangan. Uji coba dilakukan di beberapa tempat di Inggris.

"Proyek ini membuat saya sering ke lapangan dan menghabiskan waktu di alam terbuka. Kadang selama berhari-hari menyempurnakan Saturn,'' kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdul Muin dan Djamilah ini.

Dalam enam bulan terakhir, hampir tiap minggu Subchan dan timnya ke lapangan menguji Saturn. Waktu yang terbatas memang menjadi salah satu kendala pengembangan Saturn. Bahkan, sampai babak final pun, masih ada beberapa masalah yang mengganjal.

''Pada proofing event (pembuktian produk) yang berlangsung selama lima hari, kami sempat khawatir karena sampai hari ketiga komunikasi antara stasiun pengendali di darat dan robot kendaraan tidak begitu bagus,'' bpak lima orang anak itu. Untunglah pada hari keempat, persoalan bisa diatasi.

Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dilakukan setiap tim adalah dalam waktu satu jam harus mendemonstasikan hasil temuannya di Village of Copehill Down, di Salisbury Plain, Wiltshire, Inggris. Yakni, sebuah perkampungan yang khusus dibuat untuk latihan militer. Kondisi perkampungan itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan medan peperangan, lengkap dengan snipers, bom, tank, peluncur roket, hingga aktor yang berperan sebagai tentara lawan dan penduduk sipil.

Dalam tantangan seperti itu, robot peserta MoD Grand Challenge harus bisa membedakan mana yang ancaman dan mana warga sipil biasa.

''Saya sangat bersyukur bisa menang,'' kata suami Ima Imadatul yang pernah empat tahun bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebelum menjadi dosen ITS.

Subchan layak berbangga karena dari 11 tim yang mengikuti lomba ini hanya enam yang masuk babak final. Dan dari enam ini, Team Stellar menang dan berhak atas penghargaan begengsi RJ Mitchell Trophy. Tropi yang mengambil nama perancang pesawat Spitfire Fighter, pesawat tempur legendaris pada pertempuran Battle of Britain.

Penelitian pertahanan dan keselamatan sipil memang bukan dunia yang asing bagi Subchan. Cranfield University, tempat Subchan sekarang bekerja sebagai peneliti, memang memiliki studi pertahanan. Di sinilah dulu ia menyelesaikan S3 di bidang Guidance and Control (panduan dan kendali). ''Berbagai proyek yang saya ikuti hampir semuanya memiliki kaitan dengan pertahanan,'' kata Subchan .

Setelah lulus doktor, Subchan meneruskan post doctoral pada Departement Informatics and Sensors pada universitas yang sama dengan bidang yang ditekuninya sekarang: decision making, data fusion, mission planning and control (bidang pengambilan keputusan, penggabungan data, dan perencenaan misi).

Ia mengaku tidak pernah membayangkan dan berencana menjadi peneliti militer. Tapi kuliah S3 di Cranfield University membuatnya menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer. Ia pernah meneliti 'awan yang tercemar nuklir'. Bila semisal ada kebocoran di reaktor nuklir, Subchan membantu menentukan luas wilayah yang tercemar bahan berbahaya. Dari sini bisa ditentunkan warga di wilayah mana yang harus diungsikan karena kebocoran nuklir tersebut.

''Inilah yang membuat saya senang dan menikmati bidang saya. Ada hasil nyata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia,'' kata Subchan yang juga sering menjadi pembicara pada forum pengajian di Swindon dan London.

Untuk masa depan Saturn yang ia kembangkan bersama Team Stellar, ia belum tahu persis kapan selesai dan dipakai oleh kalangan militer. Yang jelas, teknologi yang dipakai sangat kompleks dan membutuhkan dana yang besar. ''Kalau dananya tersedia mungkin Saturn bisa hadir lebih cepat,'' katanya. (el)

Url: http://www.jawapos.co.id/

Monday, August 25, 2008

Beasiswa Pascasarjana Ilmu Manajemen FEUI

Selamat Kepada Penerima Beasiswa Pascasarjana Ilmu Manajemen FEUI

:: Monday, 04 Agustus 2008 Pascasarjana Ilmu Manajemen- Fakultas Ekonomi - Universitas Indonesia, mengucapkan selamat kepada para penerima beasiswa dari Program Pascasarjana Ilmu Manajemen FEUI

No NAMA KKHS Persentase
1 Gamaginta Manajemen Perbankan 100%
2 Adi Putra Manajemen Perbankan 50%
3 Engkos Kosasih Manajemen Stratejik 100%
4 Lia Sovia Ekawati Manajemen Stratejik 50%
5 Helena Mey Linda Purba Siboro Manajemen Pemasaran 100%
6 Rahma Dhoni Manajemen Pemasaran 50%
7 Rahmi Amini Manajemen Keuangan 100%
8 Syafri Rakhmat Manajemen Keuangan 50%

Sunday, August 24, 2008

Ranking Perguruan Tinggi Sarjana & Pasca-Sarjana di Amerika

Info yang menarik, rekan Condro!

Sedikit tambahan dari Franklin:

1) ranking yang tinggi tidak langsung menjamin semua program yang
ditawarkan pada kampus tersebut juga terbaik. Lebih baik lagi jika
para rekan langsung menghubungi jurusan dan profesor yang
bertanggung-jawab terhadap grup riset di kampus tersebut. Juga dengan
mempelajari output dari departemen-departemen di kampus tersebut.

2) ranking yang ditunjukkan rekan Condro ini bisa disebut ranking
"semu" karena sangat menekankan kualitas "undergraduate" study...
alias program S-1 kalau di Indonesia. Bagi yang ingin masuk program
S-2/S-3, pertimbangkanlah mutu "grad school" dari kampus-kampus
tersebut secara terpisah; rankingnya seringkali berbeda dengan ranking
"colleges". Selain itu, "grad school" biasanya diranking berdasarkan
spesialisasi departmen... tidak seperti ranking "colleges" yang masih
sangat general.

OK? Bagi yang masih bingung, coba bandingkan beda ranking dari
"college" dan "grad school" dari situs yang sama. Ini saya beri
beberapa contoh:

a) Best Colleges:
http://colleges.usnews.rankingsandreviews.com/college/national-search

b) Best Physics Grad Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/phy/search

c) Best Law Grad Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/law/search

d) Best Psychology Graduate Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/psy/search

e) Best Fine Arts Graduate Schools:
http://grad-schools.usnews.rankingsandreviews.com/grad/art/search

salam,
Franklin

RESPONS

Saya setuju dengan pendapat mas Franklin. Kebetulan saya sendiri
pernah merasakan kuliah di 2 universitas yang masuk ke dalam daftar
ranking 100 besar dunia tersebut. Saya tak perlu sebutkan nama
universitasnya secara spesifik, yang jelas keduanya berasal dari
negara maju yang berbeda.

Setelah mengalami sendiri proses perkuliahan dan penelitian di kedua
univ tersebut saya bisa merasakan perbedaan kualitas yang sangat jauh
antara keduanya. Namun ironisnya dalam sistem pemeringkatan tersebut,
universitas yg menurut saya (tentu saja berdasarkan pengalaman
empirik) kualitasnya bagus malah mendapat peringkat jauh di bawah
universitas yang kualitasnya, sekali lagi menurut pengalaman saya,
kurang bagus (jelek, if you like).

Jadi semua ini tergantung dari program apa yang kita pelajari. Sistem
pemeringkatan univ biasanya dilakukan secara rata2 keseluruhan
program/dept yang dipunyai univ tersebut.